a sip of coffee

December 17, 2007

Bangun jam 9 pagi di kampus. Nginep lagi. Kebiasaan buruk yang mengasyikkan. Internet kampus malem2 kenceng soalnya. Efek sampingnya pagi2 ya itu, ga seperti mahasiswa lainnya (yang tentu saja sudah rapi dengan kemeja kotak-kotak, celana bahan, rambut disisir sangat rapi, jaket tebal, dan tas punggung yang cukup besar buat hiking). Saya baju, celana, dan rambut acak2an dengan bekas air liur di sekitar mulut. Pithecanthropus at his best. Karena saya sadar kalau saya bukan pemandangan yang enak dilihat (sebenarnya mau pake apa aja juga kurang enak dilihat, tapi saya anggap itu sugesti saja), saya pun kembali ke kosan.

Jalan dikit, stop angkot. 7 menit kemudian turun, ganti ojek. 2 menit kemudian turun, jalan kaki. 2 menit kemudian, cari2 kunci di kantong. 5 menit kemudian, akhirnya kuncinya ketemu.

Ah, shower air hangat. Penemuan manusia paling berguna. Rokok meracuni paru-paru. Bir meracuni darah. Internet meracuni pikiran. Shower air hangat, pelarian yang menenangkan.

Setelah membawa pakaian kotor ke keranjang cucian (di kosan saya gratis cuci 4 potong per hari), saya pun mencari2 pakaian bersih di lemari. Dresscode standar saya yang akhir2 ini sering sekali saya pakai, T-shirt JGTC biru muda, sweater ITB abu-abu, dan celana jeans. Dua yang pertama ada, tapi yang terakhir saya lihat2 dulu. Bolong di 6 tempat. Selain 3 lubang untuk pinggang dan dua kaki, ada 1 di masing2 lutut dan 1 di pantat. Sampah bener. Ah, saya jadi ingat. Harus beli jeans baru.

1 jam kemudian pun saya keluar dari Lee Cooper dengan 1 celana jeans baru (cepet kan? Belanja sendiri asiknya itu, haha). Melihat reminder hp yang berbunyi terus (BELAJAR UAS!! BELAJAR!!), saya dengan enggan harus belajar untuk UAS besok. Dimanakah tempat belajar yang asik? Tempat bisa buka laptop, sofa empuk, dan frapuccinno caramel?

Tentu saja, starbucks. Lama nggak ke sini. Sekarang pun ke sini gara2 tadi pas buka dompet nemu voucher (Alhamdulillah, Tuhan masih baik sama saya). Setelah ngeliatin anak SMA yang berantem sama cowonya sampe2 satu mal ngeliatin dan dengan dramatisnya mereka jalan cepat menjauh sambil ujan2an, saya pun membuka laptop. Membuka file presentasi buat besok.

Lalu menulis post ini.

Belajarnya di kampus aja ah.

7 Responses to “a sip of coffee”

  1. Praditya said

    Jadi gak blajar neh.. :D

  2. met belajar,

    buku matdis gw masih ada ama lo khan?

  3. ramdaffe said

    @praditya: ya belajar lah
    @petra: masi2 hehehe

  4. adyani said

    kaos jgtc yang tulisannya ‘ i barely survived…’ itu bukan? i got that one also, it looks nice & feels even nicer.

  5. ramdaffe said

    @adyani: yup, that one. but yesterday one of my friend who was upset because he didn’t get it took revenge by showing off his new JIFFest t-shirt –;

  6. rey said

    hahahha sindrom malas yang seringkali gue rasakan juga ram

    berasa tajir. bsoknya ngemis2 =P

  7. ayampetok2 said

    ckkk….cckkkk….kebiasaan papah banget daaahhh… blajarnya ditunda2
    eh, tapi gw SETUJU BANGEEEETTTTT
    belajar paling mantap itu di STARBUCKS!!!!!
    nyahahahaha68x :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: