three-way battle

April 17, 2008

Yes, yes. Yet another movie review(s). Bahkan di tengah kehidupan yang serba tak teratur akhir-akhir ini saya masi menyempatkan menonton 3 film.

1. Tali Pocong Perawan

Pembelaan: saya nonton karena tau film ini jelek dan 10 ribu itu saya relakan buat tau sejelek apa filmnya. Pembelaan kedua: Rey dan Brian yang ngajak, ini demi persahabatan. Hahahaha. Walaupun terlambat 15 menit gara2 seksi transportasi ketiduran, kami masih bisa menikmati filmnya. Walaupun duduknya di baris kedua dari depan pojok kiri, saya masih bisa menikmati menonton filmnya. Walaupun saya harus menerima kenyataan bahwa di film ini pocongnya bisa terbang seperti superman dan muncul dari dalam TV LCD Samsung 32″, saya masih bisa menonton ngerti ceritanya. Udah ah. Intinya ini film yang cukup menghibur. Karena pemandangannya yang lumayan. Lucu lagi. Direkomendasikan untuk orang yang takut nonton film horor tapi pengen jalan bareng temen2.

Jelek sih.

2. Le Voyage du Ballon Rogue

Film dari Hou Hsiao-Hsien, masuk Cannes Film Festival dan akhirnya saya tonton di Festival Sinema Perancis bareng Adyani minggu malam kemaren. Mari saya bahas kekurangannya dulu: film ini bikin ngantuk. Ga ada awal, ga ada klimaks, ga ada penyelesaian. Sekarang kelebihannya: film ini indah. Bisa bikin suasana damai dan tenang tanpa sok artistik. Terus dialog & aktingnya (terutama Juliette Binoche), natural banget! Serasa duduk di sofa, minum kopi, dan  menikmati melihat-lihat orang-orang di sekeliling kita. Balon merahnya bikin penasaran, walaupun sepertinya film ini agak terlalu berat buat saya karena sampai sekarang saya ga bisa nemu hubungan cerita filmnya dengan balon merah itu (apa waktu itu mulai ngantuk? entahlah). Good movie, anyway.

3. The Great Dictator

Dari dulu penasaran: sebenernya filmnya Charlie Chaplin ky gimana sih? Akhirnya setelah sedikit membongkar komputer editing saya akhirnya nemu film ini. Walaupun warnanya hitam putih dan dibuat tahun 1940, untungnya ini bukan film bisu, jadi bisa enak nontonnya. Ternyata bener, filmnya lucu! Nggak selucu Monty Phyton & The Life of Brian sih, tapi tetep aja konyol. Gila juga tapi ini film, dibuat pas perang dunia II, settingnya persis pada tahun yang sama, dan terang-terangan ngejek Hitler, Jerman, dan Italia. Adegan-adegannya banyak yang nggak penting tapi berkesan, misalnya pas Chaplin berpidato pake bahasa jerman ngasal dengan gaya yang mantep abis. I love this movie! This could be my most favorite black-and-white movie ever, i think. Hehehe.

Up next: In The Name of Love atau Three Kingdoms?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: