Review: The Fall

June 8, 2008

Satu hal yang sangat gw sesalkan: gw ga nonton film ini beberapa bulan lalu waktu premiere di Jakarta. Untungnya Blitz PVJ berbaik hati memutar ulang film ini sehingga gw ga perlu hunting DVDnya.

Film ini bersetting tahun 1915 dan menceritakan fantasi antara Alexandria (Carinca Untaru) dan Roy (Lee Pace). Sutradaranya adalah Tarsem Singh. Salut gw kalau ada yang pernah denger nama-nama tadi sebelumnya. Nama “besar” di film ini cuma Spike Jonze (pembuat Being John Malkovich). Masih belum pernah denger juga? Gapapa, dimaafkan. Wajar kok. Oke, coba sisakan duit beberapa ribu buat nonton film ini. Alur cerita pelan dan dialog banyak yang maksa. Adegan action datar. Adegan sedih malah bikin ketawa penonton 2 row di depan gw. Adegan lucu di saat serius. Sounds like a disaster, right?

Well, yes. If you’re a regular, Hollywood-style-loving moviegoers. You’ll be bored right after the opening credit.

On the contrary, if you like artistic or alternative movie, you’ll love it and i’ll tell you why.

It’s gorgeous. Mesmerizing. Beautiful. Not just “good” but incredible.
Every frame, every second of it is simply breathtaking.
India. Fiji. Arabia. Desert. Island. Forest.
Best of all, there’s no computer special effects. Pure cinematography.

Kembali ke bahasa indonesia. Film ini sinting. Ngambil gambar di 18 negara selama 4 tahun (yup, termasuk Bali). Kok bisa-bisanya ada orang bikin film kayak gini. Ya, setelah nonton film ini gw memaafkan semua “kekurangan” tadi. Termasuk orang ketawa 2 row di depan gw (actually they’re laughing at possibly the most natural acting by a child ever). Seperti makan di restoran kemahalan dan makanannya biasa-biasa aja tapi pemandagannya luar biasa. Walaupun begitu gw yakin 80% temen gw bakal marah-marah kalau gw suruh nonton film ini. That’s why i’ll recommend this movie for some people only. Unless they got some extra ticket. In that case i’ll take it just for the sake of enjoying those beautiful shots over and over.

Untuk yang suka film2 box office dan nomat bareng temen: 1 out of 5 stars
Untuk yang pengen bikin atau belajar atau pengapresiasi film: 5 out of 5 stars

2 Responses to “Review: The Fall”

  1. sella said

    hehe. ramdo! hari ini terakhir syuting nii. ayo smangat.
    hei, sla suka ama analogi kamu.
    ky makan di restoran mahal dengan makanan biasa-biasa aja tapi disuguhin pemandangan luar biasa.
    hoho. nice..
    sip, nanti sla nonton the fall ah! :)

  2. sayapbarat said

    Gw bener2 masih penasaran ma ini filem. Ada DVD nya gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: