sekian koma sekian

May 11, 2009

Dalam perjalanan ke kampus,
pagi ini saya mendengarkan siaran RRI tentang calon presiden.
Topik yang luar biasa membosankan di stasiun radio dengan nama paling membosankan.

Anehnya, saya menikmatinya.

Mungkin di situ pesona radio: kita harus duduk dan mendengarkan untuk mengerti. You pay more attention with less distraction. Di televisi selalu ada running text di bawah dan break iklan sabun muka terbaru. Di internet selalu ada lebih banyak tulisan yang akan membuat kita berpindah entah kemana. Distraksi-distraksi yang adiktif.

Saat kita mendengarkan orang berbicara di radio, ada tantangan tersendiri. Kita tidak bisa melihat orangnya, kita tidak bisa melihat apakah dia memakai kaos atau kemeja. Kita tidak tahu apakah rambut dia ikal atau botak. Kita tidak bisa melihat gerakan tubuhnya atau keringat di keningnya.

Kita hanya bisa mendengarkan sebagian dirinya, disajikan lewat pengeras suara.
Di saat seperti itulah saya meninggalkan ribuan huruf di layar laptop, mematikan suara televisi, dan duduk mendengarkan radio berantena perak dengan suara jeleknya.

Duduk tenang terhibur mendengarkan sandiwara dunia.

2 Responses to “sekian koma sekian”

  1. adjuningtidjas said

    baiklah .. then you should listen my AM radio on my “nenek” , ram ..
    hanya punya dua level volume . mati samasekali atau LUARBIASA KERAS ..
    hahahha .. menarik .

  2. dinoy said

    radio kill the video stars *kaya dengerin aja gue

    tapi yang paling seru dan kocak kalo misal denger temen yang kita kenal siaran di radio, haha bisa cengar cengir sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: