longest vacation (yet)

August 17, 2009

Uhm, well, entah kenapa bulan Juni dan Juli sudah lewat tanpa membahas apa saja yang terjadi di liburan ini. Apakah karena kemarin-kemari n saya terlalu tenggelam dengan pemikiran dan perasaan yang sedang butuh dikeluarkan? (bahkan saya masih menggunakan kata “saya” di post ini!). Enough of the cheesy posts, i say.

Liburan ini saya menghabiskan waktu yang benar-benar kontras dengan teman-teman saya. Nilai mereka bagus dan mereka menjalani KP (kuliah/kerja praktek) sampai liburan usai. Nilai saya jelek dan saya tidak KP. Saya malah jalan-jalan karena saya tidak pernah libur tahun-tahun sebelumnya.

  1. Jogjakarta
    Perjalanan hunting foto ini mengawali liburan panjang tahun ini. Tidak seperti hunting ke Ujung Genteng tahun lalu, kali ini kami bisa bawa koper, beli minuman di sepanjang jalan, dan mencharge batere hp setiap malam. Kami (anak LFM) pun memakai 2 bis, sehingga kaki saya bisa diletakkan di tempat yang lapang di belakang kursi supir. Yah, sampai di sana juga ke objek wisata standar seperti borobudur (kesiangan) dan prambanan (kesorean), tapi ada juga yang belum pernah saya kunjungi (pantai Baron dan Candi Ratu Boko). Sayang tidak sempat ke Dieng. Yang asik, kami menginap di hotel Puntodewo, hotel murah kecil 2 menit dari Malioboro. Orang-orang boleh bilang suvenir dan makanan di jalan ini mahal, tapi saya menikmati berada di tengah keramaian di kota yang terasa sangat ramah. 3 hari di sana pun saya isi dengan kegiatan tak berguna. Membuat video gila bersama Nadia, Aftah, dan Ery sebagai bukti bahwa kami tidak peduli dengan gender dan kevulgaran. Membeli oleh-oleh absurd berupa postcard gay, bumerang, dan cambuk delman. Menyaksikan hanoman membakar rumah di sendratari Ramayana. Menonton sinetron sampah Indosiar saat berhenti di Tegal. Tidur dan bercanda dan bernyanyi di bis. Beramai-ramai, satu keluarga besar. Keluarga kedua saya. Kalau dengan keluarga pertama, setelah pulang dari jogja saya pergi ke..

  2. Singapura
    Keluarga saya bukanlah tipe traveller (kecuali mengunjungi Bali 3 kali setahun), jadi agak kaget juga saat harus mengatur liburan ke Singapura bersama ibu dan adik (ayah ada rapat). Terakhir kali saya ke sana saat masih kelas 6 SD dan kerjaannya naik bis tingkat serta mengunjungi semua museum yang ada. Ternyata tidak jauh berbeda dengan dulu: Singapura masih kota bersih yang terlalu rapi. Bedanya, dulu saya dan ayah saya backpacking. Sekarang lebih mewah, menginap di hotel bintang 5 dan tiap hari makan burger king. Dulu jalan kaki non-stop sepanjang Orchard Road. Sekarang berhenti di tiap toko baju karena Singapore Great Sale. Dulu ke Discovery Centre dan Asian Civilization Museum. Sekarang naik Singapore Flyer dan bermain salju indoor. Dulu ke mal di pinggiran kota. Sekarang ternganga melihat National Geographic Store di VivoCity. Dulu nggak nelpon ke jakarta. Sekarang nerima telpon aja 4 ribu rupiah semenit berkat Simpati keparat. Dulu bayar MRT pakai uang logam.  Sekarang tinggal sentuhkan Tourist Pass. Menyenangkan (dan murah karena naik AirAsia). Yang tidak biasa, setelah dari sana kita langsung bertemu ayah saya di..
  3. Bali
    Untuk pertama (atau kedua) kalinya tahun ini. Mulai membosankan karena sepertinya objek wisata yang seru sudah habis, walaupun terobati setelah 2 jam bergelantungan di ketinggian 7 meter saat outbound di Hutan Raya dekat Danau Bedugul. Pantai kuta bentuknya makin tidak jelas dan ombaknya kayaknya semakin kecil jadi saya malas surfing. Yang senang adik saya, karena punya segudang profile picture baru karena saya bawa lensa 180mm f/2.8 punya teman saya. Oh iya, saat di bali ini adik saya resmi memantapkan pilihannya untuk bersekolah di SMA Bakti Mulya 400. Selamat! Setelah mencari oleh-oleh sandal Havaianas saya pun pulang sendirian ke..
  4. Bandung
    Akhirnya saya kembali ke bandung. Saat itu saya sedang rindu dengan teman-teman saya. Agak konyol memang, tapi sering saya ke bandung hanya demi bertemu Ayu atau Vina atau Echa. Hanya untuk datang ke unit dan merasa hidup di sana. Selama sebulan kedepan saya sering bolak-balik bandung-jakarta dan disinilah banyak kejadian-kejadian yang tidak akan saya lupakan. Saya akhirnya menjadi fotografer Wisuda ITB. Saya ikut LA Lights Indie Movie dan lolos sampai 5 besar. Saya membuat video stop-motion pertama kalinya untuk ulang tahun sahabat terbaik saya. Saya akhirnya datang ke pesta ulang tahun Manda untuk pertama kalinya. Sungguh, kalian menyenangkan sekali. Oh iya, sebelum produksi film LA Lights itu, kami bersepuluh dari Bandung diwajibkan mengikuti workshop dan festival film di..

  5. Jogja (lagi)
    Bersama Hafid, Esa, Isti, Adin, Ilma, Steva, Destri, Yuki, dan Ali kami pun ke Jogja untuk mengikuti Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya naik kereta api bisnis dan tidur di “hotel” dua puluh ribu rupiah semalam dan teman saya ada yang kesurupan (banyak rekor yang dipecahkan selama liburan ini). Selama di sana kita bertemu satu tuan rumah yang luar biasa ramah dan keren (mas Garin Nugroho) dan banyak tokoh perfilman, baik yang indie maupun mapan. Bahkan mentor kita semua ternyata sutradara (mas Ray Nayoan – sutradara “The Peeper” – “Takut”). Di sana saya berkenalan dengan 30 peserta lainnya dari Jakarta, Jogja, dan Surabaya. Seperti stereotipe biasanya, anak jakarta pendiam, jogja lucu, dan surabaya berisik. Di sana kelompok saya membuat film animasi pendek dengan aktor sebuah sandal, dan ternyata kota lain menjadi saingan yang cukup berat. Setelah puas kemana-mana naik becak dan bertemu waiter (yang nampaknya) gay di Mirota bernama Andro, saya kembali ke bandung bersama anak LFM yang selesai roadshow. Sesampainya di..

  6. Bandung (lagi)
    Saya merasa liburan ini masih tersisa waktu yang cukup buat diisi. Namun sepertinya saatnya kesenangan berakhir. Saya mengalami kejadian dengan dawai yang tidak seperti harapan saya. Nilai jelek saya akhirnya terungkap dan saya dimarahi habis-habisan oleh dosen wali merangkap ketua program studi saya. Orangtua saya pun menyuruh saya kembali ke jakarta, setelah mengikuti Open House Unit (OHU) yang saya habiskan 40%nya dengan tidur karena saya tiba-tiba demam dan pusing. Mau apa lagi? Saya pun kembali ke..
  7. Jakarta
    dengan bonus sakit perut dan susah tidur.
    17 Agustus 2009.

P.S: selamat ulang tahun, indonesia.

2 Responses to “longest vacation (yet)”

  1. what a journey.. sumpah sumpah sumpah. gw kangen masa-masa kita mengungkap semua “kejadian” di jogja pas di perjalanan menuju bandung sama anak2 roadshow. hahahaha.. cheers!

  2. Waldi - Jatiluwih said

    Janjimu untuk sangat serius di semester ini ditunggu keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: