i batik, therefore i am

April 8, 2010

Minggu lalu saya ikut workshop membatik di kampus. Saya sebenarnya hanya penasaran bagaimana perasaan ibu pembatik di lantai dasar toko Mirota di Yogyakarta (yang sangat membekas karena setelah itu saya shock melihat kasirnya beyond gay). Saya meninggalkan mouse dan Wacom saya selama 1 jam untuk menggambar dengan lilin dan canting. Wow, what a change.

Ternyata susah, karena beberapa hal:

1. Menggambar batik itu eliminatif (yang kita “gambar” nantinya nggak kena tinta), sedangkan saya biasanya menggambar dengan pensil. Awal-awal bingung karena jadi nggak kebayang hasilnya kayak apa. Oke, sense artistik tradisional saya emang defisien.

2. Resiko luka bakar ringan sangat besar. Bagi yang tolol sehingga ketumpahan lilin cair panas tepat di atas luka atau lecet di jari telunjuk kanan di pangkal kuku, selamat: berarti senasib dengan saya. Mantap kan.

3. Saya nggak bisa gambar pola. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat pola yang digambar oleh partner saya, Ayuningtyas dari keraton solo, di kain polosnya:

Sebagai perbandingan, inilah mahakarya saya, setelah membakar celana jeans saya, setelah difoto oleh para panitia sebagai contoh teladan, setelah setelah dicelup tinta beberapa kali.

Batik cumi-cumi, final revision.

Berikutnya, katanya ada workshop wayang. Siap-siap saja melihat saya berada di balik layar,
memainkan wayang trolololololo.

6 Responses to “i batik, therefore i am”

  1. reytia said

    keren!! ahhh siall gue nyesell ga ikuttt.. trololololo yang punya ayu mana? trololololo

    btw kok warnanya jd ungu ya? kirain jadi coklat gitu

  2. ah bagus sekalii. aduh iya nyesel ga ikut :( mudah2an taun depan ada lagii..hua..

  3. saskhyaauliaprima said

    hatihati akan apa yang terpendam dalam alam bawah sadarmu mas ramdaa..batik ini sungguh menggoda hahaha

  4. ramdaffe said

    @saski: hm? apa yang terpendam ya mbak saski?
    *siul siul*

  5. Waldi - Jatiluwih said

    Ram, kalau betul sampeyan akan main wayang saya pasti tersungkur pingsan, tapi begitulah: like father like son
    Omong-omong di atas lemari tiyang ada satu lembar wayang kulit Gatotkaca tersimpan…
    Mau pakai utk praktikum?
    Usianya lebih tua darimu

  6. batiknya cakep! (kenapa pilihan katanya ‘cakep’ sih?)
    gue waktu itu membatik belepotan kemana2 lilinnya, jadi belang blonteng gitu hasilnya.

    Ini apa sih Ram kok ada workshop2 gini dimana? menarik sekali.

    – D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: