the undefinitive answer

November 4, 2009

Saya baru menonton 500 Days of Summer. Iya, teman-teman saya yang sudah menonton di Hong Kong atau Australia, saya telat (walaupun mungkin saya lebih dulu terobsesi dengan film ini sejak bahkan posternya baru pertama kali muncul).

Iya sih, karena Zooey Deschanel. Really, she’s one of the major attraction here. Every person on earth should be a fan of at least a movie star, and yeah, this movie only reinforced my choice.

Walaupun begitu, awal film ini sudah memberi peringatan kok. “It’s not a love story, it’s a story about love“.

Leganya (dan sedihnya), janji ini ditepati.

Mungkin film ini bukan untuk orang yang mencari jawaban singkat. Film ini malah tidak hanya tidak menjawab apa-apa, tapi malah balik bertanya apa sebenarnya yang kita minta dan tanyakan. Bukannya melegakan tapi malah menghancurkan mimpi indah. Bukannya memperkuat pemikiran saya, malah memberikan perspektif baru. Well, not really new, but still enjoyable to see them in a satisfying, well-thought, kind of bittersweet movie.

Best romantic comedy/tragedy I’ve watched this year (before this: Definitely, Maybe).
A movie that can turn skeptics and optimist into realist.

Note: My favorites are still Sleepless in Seattle and As Good As It Gets.

T: Right, but that’s what I don’t understand. What just happened?
S: I just…I just woke up one day and I knew.
T: Knew what?
S :What I was never sure of with you.

hollow hoaxes

October 28, 2009

Ade: Pengumuman untuk semua masyarakat indonesia besok akan ada gempa 10.11 sekala liter pada pukul 10 pagi
Saya: Sekala liter? kamu ngomongin gempa atau minyak tanah?

Untung spam di BBM belum mengalahkan kesampahan spam bahasa vietnam di YM saya.

7,5 million years

October 19, 2009

I think the problem, to be quite honest with you is that you’ve never actually known what the question was.
~Deep Thought, The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy

Hemm ini pemikiran yang muncul karena saya bosan belajar sistem operasi. Tentu saja tidak jauh-jauh dengan topik post-post saya di blog ini biasanya (yeah, that for-God-sake-stop-talking-about-that-bloody-L-word).

OK, here’s the deal: I know with quite a degree of confidence that there’s only two kind of real answers to a confession of love and the will to have a relationship in romantic context.

“Yes” and “No” and nothing else.

Namun lalu saya jadi memikirkan hal lain dibalik itu.
Apakah saya mengerti apa yang sebenarnya saya tanyakan?
Apakah saya mengerti apa yang sebenarnya saya minta?
Apakah saya mengerti apa yang sebenarnya saya mau?

Apakah selama ini saya tidak berani meminta jawaban karena saya tidak yakin apa yang sebenarnya saya tanyakan?

Hmm hanya pemikiran sejenak sih. Thought it would be better to write it down now (in case I’m too busy looking for someone whom i can ask that ultimate question hahaha)

what’s unchanged

your charm.
your mad laughs.
your ability to stay awake.
your devotion to your future.
your tough stance on anything that irked your mind.
your insistence on your real-life existence.
your tiny bit of satisfying arrogance.
your unwillingness to stop running.

what’s changed

your life (or to be exact, the way you live it).

what’s changed beside that one

(maybe) our friendship.
(sometimes) our views on things.
(definitely) our future.

visa on arrival

October 14, 2009

R: oke, gw beri analogi terakhir tentang kehidupan gw:
G: cool banget mas ramda ini curhat saja pakai analogi
G: mari coba saya simak
R: gw petualang yang sudah terlalu sering ditolak masuk ke negara2
R: sekalipun gw hanya ingin singgah dan belum tentu menetap
G: okay
R: jadi ya kalau mau menyombong, gw sudah melihat dunia tapi sebatas sekilas saja
G: tsaah.
R: hahaha
R: pas masuk imigrasi langsung disuruh pulang =))
G: hahaha mungkinkah anda ditolak masuk karena pemerintahan negara ini tau anda tidak berminat untuk menetap?
G: itu bisa jadi begitu
R: nggak juga, rata2 mereka memang hanya peduli dengan program pariwisata mereka saja
R: asumsi mereka, turis pasti cuma sebentar
R: dan mereka selalu minta turis yang ganteng dan kaya untuk menjaga image pariwisata mereka
R: they don’t like backpackers who fall in love with them
R: or rather, they don’t want to take any chances
R: “yang aman2 saja”
G: ah gue benci banget kata-kata ” cari pacar yang kaya “
G: cih.
G: *maaf terbawa sesaat
R: kenapa begitu?
G: kenapa begitu apa?
G: kenapa gue gasuka kalimat itu?
R: yup
G: ya gasuka aja, parasit kesannya
G: dan betul deh, berdasarkan pengalaman, pacaran dengan orang yang kelas sosial ekonominya lebih tinggi belum tentu juga menyenangkan
R: gw sudah menerima kalau sometimes it matters sih haha
R: fair enough for me
R: :p

bodoh ya?

G: misi utama gue : ikhlas
G: :D
R: misi utama gw: beruntung
R: hahaha

amin.

2:49 AM

the idyllic bus shelter

October 9, 2009

saya sedang berteduh saat kamu turun dari bus itu.

selanjutnya klise.

mungkin kita hanya butuh teman bicara
tentang harapan-harapan dan pertanda.

mungkin kita hanya butuh teman tertawa
tentang apa saja yang bisa melipur lara.

mungkin kita hanya butuh payung coklat tua.
hujan belum reda,
kita berlindung di bawah atap yang berbeda.

saya tidak tahu apakah saya masih menunggu.

saya ingin meninggalkan hujan dan atap ini
dan membelikan kita dua cangkir kopi.

oktober 2009.