Hari pertama
daah
Hari ketujuh
nitey!
Hari keeempat belas
good night (dan beberapa smiley)
Hari kedua puluh delapan
nite.
Bodoh.
ramda yanurzha's thoughts and words
Hari pertama
daah
Hari ketujuh
nitey!
Hari keeempat belas
good night (dan beberapa smiley)
Hari kedua puluh delapan
nite.
Bodoh.
adalah tujuan hunting besar LFM dari tanggal 21 sampai 25 Juli. Jadi, saya pamit dulu ya!
Untuk reytia anindita: maaf gw belum mengerjakan foto sequencenya huhu
Untuk fathia qadreza: maaf gw belum sempat mengerjakan pesanannya haha
Untuk wisnu adityo: maaf gw belum sempat mengerjakan logonya hehe
Untuk lounafarsha w: jaga baik-baik si mbak acer di rumah, jangan dijadikan alas mouse hihi
Untuk ayah dan bunda: semoga urusan sekolah si louna lancar, amin hoho
Untuk amanda jana: duitnya gw ganti ntar ye :D
Untuk aftah rahmat ismail: selamat ulang tahun! hahihuheho
Untuk semuanya, selamat berlibur!
Halo semuanya. Saya kembali setelah puasa menulis review sekian lama! Hahahaha
Oke, pertama-tama mungkin ada yang merasa judul di atas kurang satu kata. Ada dua alasan, alasan pertama adalah kata ketiga di subjudul film ini akan mengundang orang-orang kesepian ke blog saya ini dan membuat hit counternya meningkat drastis (sudah terbukti dalam review Perempuan Punya Cerita yang saya tulis setahun yang lalu). Alasan kedua, ya, review di bawah ini.
Saat saya membeli popcorn tadi sore, saya yakin kalau saya pasti akan menikmati film ini. Film indonesia ampas terakhir yang saya tonton adalah Kutunggu Jandamu (sudah lama sekali huwow) dan 3 film bioskop terakhir yang saya tonton itu Watchmen, Angels & Demons, serta Star Trek. Terlalu bagus-bagus. Butuh penyegaran. 5 menit nonton, saya sudah tersenyum lebar, lebih lebar daripada senyum Will. E. Coyote saat melihat Roadrunner. Lebih lebar daripada TV plasma. Film ini. Sungguh. Luar. Biasa.
Jelek.
Film ini bercerita tentang cewe-cewe hancur yang hancur karena ketololan mereka (dan ketegaan scriptwriter) dan tambah hancur karena ketololan dan kehancuran mereka yang berlanjut (dan karena tuntutan dramatis sutradara).
Tentu saja didukung oleh akting hancur yang sama sekali tidak ada chemistrynya. Guys, take note: hubungan sesama jenis perlu emosi yang lebih dalam, bukannya kamera yang mengarah ke bagian belahan tengah. Yes we do know that woman have something called b00bs, no need to show them every 3 minutes just because your actresses can’t actually deliver some good lines.
Oh iya, lupa: spoiler alert.
Oke, lanjut ke setting. Bandung, Dago Plaza, Circle K. Selalu malam hari (entah kenapa). Om-om berniat buruk yang nawar 5 juta. Om-om-om-om (banyak om-om) yang, yah, dikali banyak aja. Apartemen reyot berWC bagus. Tempat clubbing sok asik dengan dresscode salah (yang ini kata teman saya yang lebih paham dunia sana). Oh iya, wardrobe. Emang sih bandung identik dengan celana ketat kependekan (ini memang kota dengan selera busana yang agak aneh), tapi ya nggak full day juga sih, ga ganti-ganti lagi. Then again, it’s full of tobacco and drug and prostitution references. Mungkin sekalian maunya emang dibuat hancur lah ya. Lalu katanya gambarnya terinspirasi karya Wong Kar Wai. Saya melihat sering ada poster film-film dia seperti My Blueberry Nights yang ditempel di sana sini di film ini, but that’s it: it’s an insult to call it inspired by The Incredible Mr. W.K.W. Inspired by Kereta Hantu Manggarai, perhaps. Sinetron-craattt-cratt-slow-motion-cutting also in full effect, complete with their cheesy sound effects. Yang aneh sempat ada suara koor gereja kayak LOTR. Udah ah paragrafnya kepanjangan.
Oh iya, daritadi belum menyentuh ceritanya. Ya ceritanya gitu-gitu aja. Dijelaskan di salah satu adegan malah.
A: Kenapa lo?
B: Ceritanya panjang
A: Waktu gw banyak kok
B: Gw kabur dari rumah. Terus gw dijual sama temennya temen gw. Terus gw dijual. Terus gw kabur lagi.
A: Wah, ancur dong idup lo.
B: Emang.
Dialog ini terjadi di tengah cerita dan sebenarnya adegan-adegan setelah dialog ini tidak menambah cerita yang berarti. Cuma diulang sekali lagi doang kejadiannya. Saya bahkan lupa nama-nama A dan B. Yaudahlahya. Sinopsis bohongannya ada dimana-mana.
Sekarang sisanya dengan cepat: efek darahnya bagus. headphonenya ALAY. cewe bisu nggak penting. penculik entah darimana asalnya juga nggak penting. penonton di bangku C baru nyadar syutingnya di bandung saat filmnya udah 1 jam. adegan banyak yang vulgar tapi nggak penting. plotnya terlalu tolol. filmnya hancur.
Eh salah. Ini Virgin 2 : bukan film.
P.S: bagi yang bilang “KEREN!!! ( 2 JEmpol bwd Virgin 2)..” di group facebooknya, tolong. Bertobatlah.
the bad thing is, until now i don’t know much about you.
i don’t know what are you thinking or feeling
behind our short goodbyes and stupid goodmornings.
what i have in my head is a shallow understanding
of what and where am i, plus how stupid i must seem.
the good thing is that finally i can build my care for you,
something that’s plain hard for me to do out of the blue.
the even better thing is that this feeling i had is real,
not a silly crush nor just another way for my heart to heal.
i hope that the best thing is you,
undreamt of but proven true.
ramda,
fading hopes and low-suit deck of cards

Oh. They even have a name for that!
dan sekali ini saja saya ingin membuat hidup saya seringan mungkin;
Tanpa beban.
Sehingga saya tak perlu sayap dan saya tak harus hinggap untuk beristirahat.
Paling tidak, biarkanlah saya memimpikan indahnya daratan.
apakah kita?
bara yang mati dengan sendirinya
dan menghapus cahaya begitu saja?
atau api kecil
yang belum membuktikan apa-apa?
saya ingin bilang saya tidak peduli
seperti yang saya ucapkan berkali-kali
tapi mau bagaimana lagi?
apapun namanya, saya tak bisa memungkiri.
mungkin kata-katamu benar, sapardi.
cinta itu sederhana.
G: Someday one of us will regret a lot of things. And I hope it’s not me. I’ve regretted too many things now,anyway. Perhaps next time it’ll be you.
G: it’ll be your turn..
R: maybe
R: we’ll see
this post is a draft, originally written on November 28, 2008 at 3:14 pm.
these days i regret why i keep giving you chances,
chances that end in sorries, hellos, and goodbyes.
see you at the future.
Huahm. Ini weekend yang melelahkan. Hari Jumat setelah screening film Dara di LFM (yang menurut gw sangat sukses), gw langsung balik ke Jakarta. Komputer ayah rusak dan gw sekalian mengembalikan lensa tele dia. Sekalian menyelamatkan kamera fisheye. Rumah gw semakin aneh dengan ornamen Bali yang terlalu beraneka ragam, tapi sisi positifnya lasagna dan pastel tutup masih tetap berlimpah dan sekarang internet di rumah sudah pakai Speedy Unlimited yang yahud. Karena terlibat pembicaraan serius yang mencengangkan di YM, gw pun akhirnya baru tidur jam setengah 4 dan bangun jam 9 karena belum pesen travel buat pulang hari itu.
Siangnya gw ke Poins Square untuk beli CD buat ayah. Sayangnya sedang ada Dahsyat, live, membuat macet, dan isinya alay-alay. Gw baru memperhatikan kalau alay jakarta lebih salah fashion daripada alay bandung. Yaudahlahya. Sport Warehouse ternyata pindah ke lantai atas, dan isinya tetep Reebok dan Converse yang model lama. Setelah menembus macet Dahsyat (literally), gw pun meluncur ke Citos untuk menunaikan ibadah. Ke aksara dan beli burger king yang ga ada di bandung.
Aksara seperti biasa selalu memberi seleksi buku dan benda-benda lucu yang menarik, tapi entah kenapa sepertinya harganya jadi agak mahalan dikit. Setelah berpikir gaji gw bakal disedot kalau gw beli buku Other People’s Love Letters: 150 Letters You Were Never Meant to See seharga 300 ribu, akhirnya gw beli 2 buku yang lebih murah: Saman (Ayu Utami) dan The Geek’s Guide To World Domination ( Garth Sundem). Gw belum menemukan waktu damai untuk baca yang pertama, tapi 20 halaman pertama dari Geek Guide sangat tolol dan berisi fakta-fakta ga penting seperti the highest-scoring words in scrabble dan how to read a chinese abacus. Truly geeky and i love it with all my heart! Tadinya mau beli soundtracknya Pintu Terlarang tapi gw udah punya MP3nya sih. Kasian koleksi CD gw, baru 2 keping.


Dua buku yang sangat bertolak belakang
Setelah membeli Burger King titipan, ga jadi nyoba makan di TRS, dan salah beli kopi di Coffee Bean (shit, 46 ribu), gw bersilaturahmi ke rumah manda yang lagi belajar UAS. Sampai rumah CD yang gw beli gagal menyelamatkan komputer ayah, dan akhirnya gw menghabiskan 3 menit terakhir di rumah mengajarkan pake program baru buat e-mail. Udah lah yah, pindah Gmail aja. Sampai di travel mendapat titipan lemper 1 dus. Sampai di bandung gw dikejar hujan sampai ITB. Sampai di ITB ada yang minta ketemuan. Sampai di ITB lagi jam 1. Bangun jam 8 dan gw memasuki mata badai.
Hurricane Eye. Minggu tenang yang diapit 2 neraka UAS.
Ah, damainya.
they said